Jumat, 03 Juni 2016

READ

Pelajar Indonesia

Hai Pemuda Indonesia Indonesia Bangkitlah……
Pemuda Indonesia Kita Semua Kuat…….

Pemuda Indonesia Kita Bisa…….

Hai Pemuda Indonesia Kita Mampu
Pemuda adalah sebuah bagian dari kehidupan yang pada dirinya ada kebaikan dengan kebaikan itu dapat selalu memberikan manfaat dalam kehidupan. Pemuda adalah tonggal yang diharapkan dapat berdiri sendiri dan menjadi tempat berdirinya bangsa dan tanah air ini. Dimana pemuda mestilah menyadarinya, kekuatan bukan merupakan mistik yang terdapat di dalam buku cerita. Kekuatan sesungguhnya dapat melahirkan kemampuan dan kepercayaan diri.
Pelajar sebagai bagian pemuda Indonesia telah menjadi harapan masa depan bangsa, yang akan memperjungkan masyarakat dalam kehidupan. Pelajar sebagai bagian dari alat pendidikan memiliki fungsi utama. Rajin belajar adalah tugas dan tanggung jawab pemuda yang khususnya adalah pelajar yang belajar.
Belajar dengan tekun akan menjadikan pelajar Indonesia bangga akan diri dan bangsa kita. Selain sebuah kewajiban belajar dan juga menjadi harapan, pemuda juga adalah diri pribadi yang akan membawa bangsa menjadi besar dan jaya.
Denganlah,… Pelajar….
Lihat sekeliling mu, mereka telah datang dari penjuru dunia seperti tamu namun telah menjadi tuan rumah dirumah kita sendiri, jangan pernah biarkan matamu terpejam walau sedetikpun. Dengan peringatan itu telah berusaha merawat dan menjaga seorang penduduk Indonesia khususnya. Ingatlah, pelajar bangun dan berjalanlah terus kedepan, membawa bangsa kearah yang lebih baik.
Perangi setiap keburukan, hindari setiap kesalahan, dan jauhkanlah dari hal-hal yang tidak baik untuk kita dan untuk semua. Jadirah diri dan pribadi pelajar yang baik hingga pelajar Indonesia adalah pelajar yang membangunkan diri.



Senin, 28 Maret 2016

Sebatas Khayalan

Ku rangkul dinginnya malam
Berpasangan seiringi kesepian 
Sepoi angin dingin menabrak tubuhku
Merapuhkan jiwa yang tersendiri

Tetapi diatas sana masih sama
Menyongsong terlihat jelas
Cahaya kilau, indah, terang berkelip
Diantara lingkaran kelamnya malam
Dialah bintang-bintang..

Kemarilah... datang padaku!
Menjadi teman malamku dini
Hati kecil yang berbisik ingin sekali bercerita
Dalam satuan harapan diesok kemudian
Kepadamu, ohh bintang-bintang..

Namun apa dayaku
Bagaikan makhluk kecil jauh dari dekatanmu
Hanya cukup mengagumi dari mata memandang
Dan berkhayal berjumpa dalam nyata

Rabu, 02 Maret 2016

BUNGA TERAKHIR DARI TAMAN TERINDAH

www.akuhebat.com





Ku sebut ia Bunga, yang begitu menggetarkan hatiku, hingga menghentikan
detakku, untuk mencurahkan segala asaku..
Wahai bungaku..kali ini ku sebut engkau begitu, agar kau tau dimana pelabuhan hatiku, untuk menggelar masa depanku, yang indah bersamamu…
Bunga Pertama.. Kusebut dia pesolek..
Wajahnya cantik.. Sangat menarik.. Setiap langkahnya membuat pria melirik.. Setiap senyuman tersirat di parasnya yang ayu mempesona.. Rambutnya bergelombang pirang.. Ditelinga kiri dan kanannya tergantung untaian anting-anting berlian.. Sangat cantik dan sesuai sekali dengan wajahnya yang wuahh…
Padamu yang pesolek..
Kami sangat menyukaimu yang tampil penuh keindahan dunia itu..
Kami bahkan rela berebutan untuk mendapatkanmu..
Tidak peduli apakah kami jauh dari liga ataukah kami masuk kategori didepak,
Yang pasti.. kami pastikan kami berusaha.. Dan itulah bunga pertama dari taman terindah didunia..
Bunga Kedua Kusebut dia pengairah..
Tubuhnya terawat wuah.. Lekuknya mengalahkan gitar dunia.. Kulitnya mulus seputih salju Himalaya.. Kakinya panjang mengundang rasa.. Perutnya rata mengoda mata.. Bajumu pas dan ketat mengimpit bagian dada.. Jalanmu supermodel dunia.. Kami semua menelan ludah..


Sabtu, 23 Januari 2016

Mengenal Sosok legend seniman dari Betawi



Sejarah
Celetukan Muke lu jauh atau Kingkong lu lawan pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb. Sejak kecil, Benyamin sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya. Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu SundaUjang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai imbalan.
Penampilan Ben kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Ben disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak. Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat - menurunkan darah seni itu dan Haji Ung alias Jiung yang juga pemain teater rakyat pada zaman kolonial Belanda. Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat Orkes Kaleng.
Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan alat musik itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu.
Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin saat berusia 6 tahun menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni. Dari tujuh saudara kandungnya tercatat hanya Benyamin yang memiliki nama besar sebagai seniman Betawi. Benyamin memulai Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago sejak umur 7 tahun. Sifatnya yang periang, pemberani, kocak, pintar dan disiplin, ditambah suaranya yang bagus dan banyak teman, menjadikan Ben sering ditraktir teman-teman sekolahnya.
SD kelas 5-6 pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. SMP di Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Satu sekolahan dengan pelawak Ateng. Di sekolah Taman Madya, ia tergolong nakal. Pernah melabrak gurunya ketika akan kenaikan kelas, ia mengancam, "Kalau gue kagak naik lantaran aljabar, awas!" Lulus SMP ia melanjutkan SMA di Taman Siswa Kemayoran. Sempat setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.
Baru setelah menikah dengan Nonnie pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik. Bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop.
Karier
Benyamin mengaku tidak punya cita-cita yang pasti. Tergantung kondisi, kata penyanyi dan pemain film yang suka membanyol ini. Benyamin pernah mencoba mendaftar untuk jadi pilot, tetapi urung gara-gara dilarang ibunya.
Ia akhirnya jadi pedagang roti dorong. Pada tahun 1959, ia ditawari bekerja di perusahaan bis PPD, langsung diterima. Tidak ada pilihan lain, katanya. Pangkatnya cuma kondektur, dengan trayek Lapangan Banteng Pasar Rumput. Itu pun tidak lama. "Habis, gaji tetap belum terima, dapat sopir ngajarin korupsi melulu," tuturnya. Korupsi yang dimaksud ialah, ongkos penumpang ditarik, tetapi karcis tidak diberikan. Ia sendiri mula-mula takut korupsi, tetapi sang sopir memaksa. Sialnya, tertangkap basah ketika ada razia. Benyamin tidak berani lagi muncul ke pool bis PPD. Kabur, daripada diusut.
Sebenarnya selain menekuni dunia seni, Benyamin juga sempat menimba ilmu dan bekerja di lahan serius diantaranya mengikuti Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negara (1964), bekerja di Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).
Perjalanan
Kesuksesan dalam dunia musik diawali dengan bergabungnya Benyamin dengan satu grup Naga Mustika. Grup yang berdomisili di sekitar Cengkareng inilah yang kemudian mengantarkan nama Benyamin sebagai salah satu penyanyi terkenal di Indonesia.
Duet Ida Royani
Selain Benyamin, kelompok musik ini juga merekrut Ida Royani untuk berduet dengan Benyamin. Dalam perkembangannya, duet Benyamin dan Ida Royani menjadi duet penyanyi paling popular pada zamannya di Indonesia. Bahkan lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi tenar dan meraih sukses besar. Sampai-sampai Lilis Suryani salah satu penyanyi yang terkenal saat itu tersaingi.
Gambang kromong
Orkes Gambang Kromong Naga Mustika dilandasi dengan konsep musik Gambang Kromong Modern. Unsur-unsur musik modern seperti organgitar listrik, dan bass, dipadu dengan alat musik tradisional seperti gambanggendangkecrekgong serta suling bambu.
Setelah Orde Lama tumbang, yang ditandai dengan munculnya Soeharto sebagai presiden kedua, musik Gambang Kromong semakin memperlihatkan jatidirinya. Lagu seperti Si Jampang (1969) sukses di pasaran, dilanjutkan dengan lagu Ondel-Ondel (1971).
Lagu-lagu lainnya juga mulai digemari. Tidak hanya oleh masyarakat Betawi tetapi juga Indonesia. Kompor Mleduk, Tukang Garem, dan Nyai Dasimah adalah sederetan lagunya yang laris di pasaran. Terlebih setelah Bang Ben berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Nonton Bioskop, nama Benyamin menjadi jaminan kesuksesan lagu yang akan ia bawakan.
Paska duet
Setelah Ida Royani hijrah ke Malaysia tahun 1972, Bang Ben mencari pasangan duetnya. Ia menggaet Inneke Koesoemawati dan berhasil merilis beberapa album, di antaranyaNenamu dengan tembang andalan seperti Djanda Kembang, Semut Djepang, Sekretaris, Penganten Baru dan Pelajan Toko.
Dunia film
Lewat popularitas di dunia musik, Benyamin mendapatkan kesempatan untuk main film. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Beberapa filmnya, seperti Banteng Betawi (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri serta Si Doel Anak Betawi (1976) yang disutradari Sjumanjaya, semakin mengangkat ketenarannya. Dalam Intan Berduri, Benyamin mendapatkan piala Citra sebagai Pemeran Utama Terbaik.
Detik akhir
Pada akhir hayatnya, Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron atau film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) ia masih merilis album terakhirnya dengan grup Rock Al-Hajj bersama Keenan Nasution. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut.
Kontribusi seni
Dalam dunia musik, Bang Ben, begitu ia kerap disapa, adalah seorang seniman yang berjasa dalam mengembangkan seni tradisional Betawi, khususnya kesenian Gambang Kromong. Lewat kesenian itu pula nama Benyamin semakin popular. Tahun 1960, presiden pertama Indonesia, Soekarno, melarang diputarnya lagu-lagu asing di Indonesia. Pelarangan tersebut ternyata tidak menghambat karier musik Benyamin, malahan kebalikannya. Dengan kecerdikannya, Bang Ben menyuguhkan musik Gambang Kromong yang dipadu dengan unsur modern.
Meninggal dunia[sunting | sunting sumber]
Description: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/95/Grave_of_Benyamin_Sueb%2C_Karet_Bivak_Cemetery.jpg/220px-Grave_of_Benyamin_Sueb%2C_Karet_Bivak_Cemetery.jpg
Makam Benyamin di TPU Karet Bivak, Jakarta
Benyamin yang telah empat belas kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ini dilakukan sesuai wasiat yang dituliskannya, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat memengaruhi hidupnya.
Bens Radio 106.2 FM
Benyamin S mendirikan Radio FM dengan nama Bens Radio. Didirikan oleh Benyamin pada 5 Maret 1990. Bens Radio adalah unit Enikom Network dengan format radio etnik, yaitu radio yang menggali potensi budaya Betawi, agar audience dapat merasakan budayanye sendiri, berkesenian dengan tradisinye sendiri, bertutur dan berdialog dengan bahasanya sendiri.[1]
Budaya dan etnik betawi terus menerus berdaptasi dengan perubahan zaman, seiring dengan perubahan karakter audience dan percepatan teknologi serta gaya hidup. Program radio etnik dikemas dalam balutan kreatif budaya masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.[1]


Jumat, 18 Desember 2015

chord gitar dan lirik




INTRO: D

        D                Em
Eh ujan gerimis aje
           A          D
Ikan teri di asinin
         Bm                     Em
Eh jangan menangis aje
               A                      D
Yang pergi jangan dipikirin

        D                 Em
Eh ujan gerimis aje
           A                   D
Ikan lele ada kumisnye
        Bm                     Em
Eh jangan menangis aje
             A                   D
Kalo boleh cari gantinye

(*)                 A         
  Mengapa ujan gerimis aje
                Em          A           D
  Pergi berlayar ke tanjung China
              A
  Mengapa ade menangis aje
       E                                       A
  Kalo memang jodo ga ke mana..hey, hey
        D                Em
Eh ujan gerimis aje
             A              D
Ikan bawal di asinin
        Bm                     Em
Eh jangan menangis aje
                 A                       D
Bulan syawal mau dikawinin

                    D                             Em
Mau di kawinin jangan nangis
 A
Bebedak yg banyak
                                   D
Yah entar kayak celapuk donk

INTRO: Bm  Em  A  D

REPEAT: (*)

              D               Em
Jalan-jalan ke Manado
                A                      D
Jangan lupa membeli param
          Bm               Em
Kalo niat mencari jodo
                 A                      D
Cari yang hitam seperti saya
Haaah…masa


Rabu, 09 Desember 2015

lirik dan kunci

UTOPIA - Hujan

G                     C 
Rinai hujan basahi aku 
Am                      D 
Temani sepi yang mengendap 
  G                 C 
Kala aku mengingatmu 
        Am             D 
Dan semua saat manis itu 

G Am Em C Em C 
G Am Em C D G 

G                   C 
Segala seperti mimpi 
Am                   D 
Kujalani hidup sendiri 
  G               C 
Andai waktu berganti 
      Am  D            G 
Aku tetap tak kan berubah 

[chorus2] 
 Am              D 
Aku selalu bahagia 
             Bm 
Saat hujan turun 
            Em 
Karna aku dapat mengenangmu 
        Am      D 
Untukku sendiri oohh 

[intro] G Am Em C D G 

G              C 
Selalu ada cerita 
Am               D 
Tersimpan di hatiku 
   G          
Tentang kau dan hujan 
   C 
Tentang cinta kita 
          Am    D       G 
Yang mengalir seperti air 

[chorus2] 
 Am           D  
Aku bisa tersenyum 
            Bm 
Sepanjang hari 
            Em               Am 
Karna hujan pernah menahanmu di sini 
  Cm 
Untukku  

[interlude] G Em Bm D 2x 
            Am D

Kamis, 12 November 2015

Catatan Sederhana

SEJARAH SASTRA BETAWI
Oleh Yahya Andi Saputra


Setiap suku bangsa di mana pun berada, tentu mempunyai kesusastraannya sendiri. Kadang kala, kesusastraan itu menggambarkan keadaan alam dan lingkungan kehidupan seseorang. Tetapi, tidak jarang pula mengungkapkan nilai-nilai kebudayaan dan pandangan hidup masyarakatnya. Demikian pula dengan kesusastraan Betawi.

Seperti juga suku-suku bangsa di Nusantara, masyarakat Betawi pun, sudah sejak lama mengenal kesusastraannya. Disadari atau tidak, masyarakat Betawi akan menempatkan kesusastraannya di dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang didendangkan dan dikisahkan, ada pula yang dibacakan. Yang didendangkan dan dikisahkan, biasanya diambil dari kekaya-an khazanah sastra lisan. Sedangkan yang dibacakan, diambil dari sastra tulis. Nyanyian do-lanan yang sering dilantunkan anak-anak di surau atau tempat permainan, sebenarnya terma-suk juga khazanah kesusastraan Betawi.

Demikianlah, kesusastraan itu hidup, karena ada masyarakat yang mendukungnya. Misalnya, ada pengarang yang menulis karya sastra. Ada pula tukang cerita yang menden-dangkan atau menceritakan hikayat-hikayat. Merekalah pencipta atau penghasil karya sastra. Mereka pula yang menyebarluaskannya. Selanjutnya, karya yang telah dihasilkan sastrawan itu, dibaca orang. Jadi, ada pula yang membacanya. Tanpa pembaca, karya itu tidak akan ada artinya apa-apa. Maka, kesusastraan itu akan hidup kalau ada pengarang dan pembaca, kalau ada tukang cerita dan yang mendengarkan cerita itu.

Kalau kita membicarakan kesusastraan Betawi, kita akan membicarakan juga penga-rang dan pembaca kesusastraan itu; tukang cerita dan pendengarnya. Kemudian, tentu juga karya-karyanya atau isi ceritanya. Dengan begitu, kita akan mengetahui apa yang dimaksud dengan kesusastraan Betawi. Siapa pengarangnya, dan siapa pula pembacanya; siapa tukang ceritanya, dan siapa pula pendengarnya.

Pengertian Sastra Betawi

Sastra Betawi menggunakan bahasa Betawi. Inilah ciri paling khas yang membedakan kesusastraan Betawi dengan kesusastraan suku bangsa lain. Kesusastraan Betawi dikarang oleh orang Betawi. Bisa juga mereka yang menguasai bahasa Betawi membuat karangan dalam bahasa Betawi. Lalu, siapakah yang membaca atau menikmati kesusastraan Betawi? Tentu saja yang terutama adalah orang-orang Betawi sendiri. Jadi bahasa Betawi digunakan, agar karangan itu dapat dipahami masyarakat pembacanya.

Kita dapat menyimpulkan bahwa kesusastraan Betawi ditulis dalam bahasa Betawi. Pengarangnya mungkin orang Betawi, mungkin juga Betawi keturunan. Tidak apa-apa. Memang, banyak juga penduduk Betawi keturunan yang menjadi pengarang. Jadi, asal-usul pengarang tidak dipersoalkan. Yang jelas, karangan itu itu ditulis atau disampaikan dalam bahasa Betawi.

Kesusastraan Betawi ditulis oleh orang Betawi. Disampaikan dalam bahasa Betawi. Dibaca atau didengar oleh orang Betawi. Maka isi ceritanya tentu berkaitan dengan kehidupan mereka. Di dalamnya, tentu menyangkut adat-istiadat, agama, tingkah laku, dan keadaan alam Betawi. Inilah yang dimaksud bahwa kesusastraan mencerminkan keadaan masyarakatnya.

Sejarah Sastra Betawi

Tidak ada kesusastraan di dunia ini yang tidak mempunyai sejarah. Pasti, selalu ada asal-usulnya, awal kelahirannya, dan perkembangannya. Kesusastraan Betawi juga tidak terlepas dari sejarahnya. Kira-kira kapan masyarakat Betawi memperkenalkan kesusastraannya. Apa karyanya dan siapa saja pengarangnya. Bagaimana pula perjalanannya hingga sekarang. Guna memudahkan pembabakannya, baiklah kita bagi kesusastraan Betawi kedalam dua periode, yaitu kesusastraan Betawi sebelum merdeka dan kesusastraan Betawi sesudah merdeka.

Tidak begitu jelas, kapan persisnya orang Betawi memperkenalkan kesusastraannya. Kesulitan menentukan angka tahun itu, lantaran pada awalnya kesusastraan yang hidup di tengah masyarakat adalah kesusastraan lisan. Seperti lazimnya kesusastraan lisan, ia disampaikan secara lisan. Berkembang dari mulut ke mulut. Masyarakat Betawi, misalnya, sudah sejak lama mengenal hikayat, legenda, pantun atau syair. Kapan persisnya? Tidak ada yang dapat menjawabnya. Penyebabnya adalah karena waktu itu tulisan belum dikenal atau orang sudah terbiasa menyampaikan berbagai hal secara lisan.

Pantun atau syair-syair lagu yang dinyanyikan tokoh-tokoh dalam teater rakyat Betawi sangat kuat nilai sastranya. Bagi saya pantun dan syair ini merupakan salah satu khasanah kekayaan sastra Betawi. Kita lihat saja syair (Arang-arangan Jantuk dan Ngelodak) di bawah ini yang dilantunkan tokoh Jantuk dalam Topeng Betawi. Kita tahu bahwa tokoh Jantuk selalu diperankan oleh panjak paling senior yang telah menguasai betul seluruh patut Topeng Betawi. Panjak pemula rasanya tidak mampu memerankan Jantuk.

Sampe kapan saya bilang ada bunga-bunga disenur
Saya bilang ada bunga-bunga disenur
Ada tetapang saya bilang ada saya embunin
Sampe kapan saya bilang si nona-nona tidur
Sampe kapan ada si nona tidur
Supaya gampang, supaya gampang saya bangunin
Kembang melati bapa ada jatoh di tanah
Kembang melati jatoh di tanah
Jantung hati di nama-mana
Kayu jati saya bilang dibikin dupa
Kayu jati dibikin dupa
Sampe mati tida-tida dilupa
Di lain bagian, Jantung kembali bersenandung. Kali ini senandungnya lebih melankolis, lantaran Jantuk merasa kesepian karena bercerai dengan istrinya.

Kebina-bina temen
Temen-temen pada kebina
Orang nanya kaga disautin
Baju tiga celana tiga
Yang satu jatuh di tanah
Bini kaga ema kaga anak dimana-mana
Ada dimana-mana
Dedeuh …
Nanem sere di pegunungan
Ambil dulang jatuh ke tanah
Waktu sore kebingungan
Saya pulang pulang ke mana
Waktu sore kebingungan
Saya pulang pulang ke mana
Dedeuh …
Jantuk saya pulang pulang kemana
Gambang Kromong

Syair lagu gambang kromong tak kalah dahsyatnya. Ada tiga jenis lagu gambang kromong: pobin, dalem, dan sayur. Lagu pobin dibawakan secara instrumentalia, namun judulnya dalam bahasa Tionghoa dialek Hokkian. Pobin yang kini masih bisa dimainkan orang di antaranya: pobin Khong Ji Liok, Peh Pan Thau, Cu Te Pan, Cai Cu Siu, Cai Cu Teng, dan Seng Kiok. Jenis lagu ini memang berasal dari negeri Cina dan merupakan lagu tertua dalam repertoire lagu gambang kromong. Tapi ada juga lagu pobin Tukang Sado yang judulnya dalam bahasa Melayu. Lagu ini jelas lebih muda usianya dari pobin-pobin lainnya.

Jenis lagu gambang kromong tertua yang dinyanyikan oleh wayang cokek disebut lagu dalem. Lagu dalem berirama tenang, lembut, dan jernih, karena itu tidak bisa dipakai untuk ngibing (menari) bersama wayang cokek, biasanya dinyanyikan oleh wayang cokek untuk menghibur para tamu yang sedang menikmati santapan. Lagu dalem memperlihatkan kombinasi yang serasi antara unsur Tionghoa dan Melayu. Seperti umumnya lagu tradisional, lagu dalem dibawakan dalam bentuk pantun-pantun dalam bahasa Melayu Betawi. Lagu ini sudah ada sejak abad ke-19. Judulnya sebagian besar dalam bahasa Melayu, misalnya Gula Ganting, Semar Gunem, Peca Piring, Mas Nona, Cente Manis Berdiri, Mawar Tumpa, Tanjung Burung, dan Gunung Payung. Namun ada pula judul lagu dalem berbahasa Tionghoa dialek Hokkian selatan, meski pantunnya dalam bahasa Melayu, misalnya Poa Si Li Tan (Li Tan Setengah Mati), atau dalam dialek Hakka (Kheh), misalnya Sip-pat Mo (Delapan Belas Usapan). Menurut keterangan Masnah yang masih mampu menyanyikannya, lirik lagu ini seluruhnya dalam dialek Hakka, yang harus dihafal mati, sebab Masnah sama sekali tidak mengerti bahasa Tionghoa, sebagaimana kebanyakan orang Tionghoa peranakan lainnya. Berikut sebagian lirik lagu Mawar Tumpa yang dibawakan Masnah.

Satu nangis dua ketawa
Kue mangkok mateng di piring
Mulut manis di depan saya
Atinya bengkok upama pancing

Kembang melati jato di tana
Jantung ati pergi di mana
Sayang, pergi di mana
Mawar tumpa awur-awuran

Aih, tana tinggi saya paculin
Si nona pergi saya susulin
E, mawar tumpa awur-awuran

Dari segi syair, dengan contoh di atas, dapatlah dikatakan lagu-lagu dalem itu mengandung seni puisi yang tinggi ditilik dari kesastraan Betawi, misalnya frasa mawar tumpa awur-awuran. Mawar Tumpa sebagai judul lagu mengandung metafora yang cukup dalam interpretasinya. Mawar tumpah biasanya dari tanggok. Ini berkaitan dengan upacara ziarah kubur dimana biasanya orang membawa bunga mawar dalam tanggok. Tumpahnya mawar membuat upacara ziarah kubur terganggu. Ironis, jika kemudian di dalam batang tubuh syair kita tidak jumpai sama sekali kisah yang berkaitan dengan ziarah kubur secara lahiriah.

Namun begitu ungkapan Mulut manis di depan saya/Atinya bengkok upama pancing, melukiskan kekecewaan terhadap seseorang. Di dalam pantun berikut kita memperoleh penjelasan bahwa kekecewaan itu disebabkan oleh Jantung ati pergi di mana/Sayang pergi dimana/Mawar tumpa awur-awuran.

Pada umumnya syair lagu sayur adalah pantun-pantun yang baku, misalnya:
Ani-ani bukannya waja
Buat memotong padi di gunung
Saya nyanyi memang sengaja
Buat menghibur ati yang bingung
Hampir kebanyakan pantun lagu sayur itu sampirannya mengandung idiom-idiom pertanian. Ini menerangkan bahwa gambang kromong sangat dekat dengan rakyat kecil. Bahkan di dalam lagu dalem sekali pun, setiap tekuk (bagian)-nya mengandung pantun yang juga dinyanyikan dalam lagu sayur. Sebagaimana diketahui lagu dalem itu biasanya terdiri dari dua tekuk.

Jenis lagu yang ketiga lagu sayur. Lagu sayur berirama riang dan cocok untuk dipakai ngibing. Yang termasuk lagu sayur adalah Kramat Karem, Onde-onde, Glatik Nguknguk, Jali-jali, Stambul, Cente Manis, Kicir-kicir, Surilang, Lenggang Kangkung, Siri Kuning, dan lain-lain. Lagu ini kira-kira mulai berkembang pada perempat terakhir abad ke-19, saat orang Tionghoa peranakan di Batavia mulai mengambil selendang (soder) untuk ngibing dengan wayang cokek.

Nyanyian Anak-Anak
Tidak kalah pentingnya syair dan pantun yang terdapat dalam lagu anak-anak. Lagu anak-anak Betawi sangat banyak. Lagunya mudah dinyanyikan. Pantunnya jenaka. Tentunya kita tahu dan dapat menyanyikan lagu Sang Bango. Lagu ini dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Pantunnya mengajarkan anak-anak untuk belajar bertanggungjawab atas semua perbuatan yang dilakukannya. Lagu Sim sim kelima-lima kasim, Tam tambuku, Dèng ‘ndèngan lagu untuk permainan anak-anak.

Sang BangÔ
Sang bangÔ è sang è sang bangÔ
Kenapè entè delak delok ajè

Mêngkènyè anè delak delok ajè
Sang ikan kagak nimbul-nimbul

Sang ikan è sang è sang ikan
Kenapè entè kagak nimbul-nimbul

Mêngkènyè anè kagak nimbul
Sang rumput keliwat têbêl

Sang rumput è sang è sang rumput
Kenapè keliwat têbêl

Mêngkènyè anè jadi têbêl
‘Kang rumput kagak potong anè

‘Kang rumput è ‘kang è ‘kang rumput
Kenapè kagak motong rumput

Mêngkènyè anè kagak motong rumput
Sang perut sakit ajè

Sang perut è sang è sang perut
Kenapè sakit ajè

Mêngkènyè anè sakit aje
Makan nasi mentè matêng

Sang nasi è sang è sang nasi
Kenapè mentè matêng

Mêngkènyè anè mentè matêng
Sang api cuman kêlak-kêlik

Sang api è sang è sang api
Kenapè entè e cuman kêlak-kêlik

Mêngkènyè anè cuman kêlak-kêlik
Sang kayu keliwat basè

Sang kayu è sang è sang kayu
Kenapè entè keliwat basè

Mêngkènyè anè keliwat basè
Sang ujan turun ajè

Sang ujan è sang è sang ujan
Kenapè entè turun ajè

Mêngkènyè anè turun ajè
Sang kodok manggilin anè

Sang kodok è sang è sang kodok
Kenapè manggilin sang ujan

Mêngkènyè anè manggilin sang ujan
Sang ulêr mau makan anè

Sang ulêr è sang è sang ulêr
Kenapè mau makan sang kodok

Mêngkènyè anè mau makan kodok
Sang ¾kodok¾makanan¾ ane.

Kelima-lima kasim
Sim sim kelima-lima kasim sim
Simpak bakul rombèng bèng
Bengkel kelapa-lapa ijÖ jÖ
Jotan daon rambutan tan
Tanduk palè si Mukcing
Cingcang daging babÎ bÎ
Biuk rodanyè empat pat
Pacul ujungnyè tajêm jêm
Jempol adè duwâ
(Wak Ipit malu saya waw-waw)

Tam tambuku
Tam tambuku
Selèrèt daon delimè
Patè lembing
Patè paku
Tarik belimbing
Tangkêp satu
Pit ala ipit
Kuda lari kêjêpit
Sipit
(InglÖ liÖ-liÖ , InglÖ liÖ-liÖ)

Dèng ‘ndèngan
Dèng ‘ndèngan
Siri tampi
Beduri-duri
Pok berèok

Mandi aèr
Aèr ujan
Ujan dêrês
Pok berèok
(Luk uluk ujan gêdë , anak kambing mau mandÏ)

Jampe Betawi, yang dibaca oleh dukun ketika mengobati orang sakit, sebenarnya paling sarat dengan nilai sastra. Pembacaan jampe oleh para dukun bukan hanya memancarkan aura magis yang menyembuhkan orang sakit, tapi intonasi dan cara baca itu pun memiliki kekhasannya sendiri sehingga pada situasi itu tercipta panggung sastra. Boleh dikatakan jampe adalah salah sastu jenis sastra yang kemunculannya paling awal karena faktor kegunaannya bagi publik.

Berikut salah satu contoh jampe Betawi untuk mengusir setan atau kuntilanak.
Sang ratu kuntilanak
Anak-anak mati beranak
Sundel malem mati di kolong
Si borok tongtong
Ke kitu ke kidang
Ke tegal awut-awutan
Ke duku pata paluna
Nenek luwung gede
Kaki cai gede
Mahula deket-deket
Mahulang ke manusa

Dari Lisan Ke Tulisan
Meskipun demikian, berdasarkan kebiasaan orang Betawi mendengarkan pembacaan hikayat yang disampaikan tukang cerita atau sahibul hikayat, kita dapat memperkirakan sejak kapan masyarakat Betawi mengenal dan mengembangkan kesusastraannya. Hikayat yang terkenal dan sering disampaikan tukang cerita adalah Hikayat Sultan Taburat. Hikayat ini berbentuk cerita berbingkai. Disampaikan dalam bahasa Betawi, dan terdiri dari beberapa episode cerita. Karena terdiri dari beberapa episode cerita, maka banyak tokoh bermunculan. Banyak pula peristiwa datang silih berganti. Semuanya kemudian seolah-olah terpusat pada diri tokoh utamanya, Indra Buganda Syafandar Syah. Jadi, Hikayat Sultan Taburat sebenarnya berkisah tentang pengembaraan tokoh Indra Buganda Syafandar Syah itu.

Diperkirakan, Hikayat Sultan Taburat sudah sangat dikenal masyarakat Betawi sekitar tahun 1880-an. Namun, ada juga yang mengatakannya, sebelum tahun 1880-an. Menurut penuturan orang-orang tua, tukang cerita yang sangat terkenal dan paling disukai dalam membawakan atau menyampaikan Hikayat Sultan Taburat adalah Haji Ja’far. Kepiawaian Haji Ja’far ini, selain cara penuturannya, juga lantaran kepandaiannya menyanyi. Memang, seorang tukang cerita dituntut hapal berbagai cerita. Ia juga harus mahir membawakannya secara enak. Tidak kalah pentingnya, tukang cerita juga harus pandai bernyanyi. Nah, Haji Ja’far ini terkenal karena ia hapal berbagai cerita, mahir membawakannya, dan pandai pula bernyanyi. Maka, penduduk pun mengenal Haji Ja’far sebagai tukang cerita yang andal.

Selain Hikayat Sultan Taburat yang sering dibawakan tukang cerita, ada pula cerita lain yang cukup terkenal, yaitu Hikayat Amir Hamzah. Berdasarkan naskah yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional, Hikayat Amir Hamzah ditulis tahun 1821, tetapi tidak diketahui siapa penulisnya.

Pada tahun 1870, keluarga Pecenongan mulai menulis Hikayat Sultan Taburat yang berasal dari kesusastraan lisan. Hal yang sama juga dilakukan pada cerita-cerita lain yang juga berasal dari kesusastraan lisan, seperti Hikayat Para Sahabat Nabi. Di antara penyalin atau penulis naskah itu, Haji Bakir termasuk salah seorang pujangga Betawi yang terkenal. Ia memperkenalkan Hikayat Sultan Taburat dalam bentuk naskah buku. Tulisannya menggu-nakan huruf Jawi, yaitu huruf Arab, berbahasa Betawi. Haji Bakir inilah yang memelopori kesusastraan Betawi dalam bentuk tertulis.

Dari karya-karya Haji Bakir, kita dapat mengetahui bahwa masa produktifnya terjadi antara tahun 1880 sampai tahun 1910. Berdasarkan koleksi naskah yang terdapat di Perpustakaan Nasional, dapat diketahui adanya naskah Hikayat Sultan Taburat I sampai IV. Hikayat Sultan Taburat I, misalnya, terdiri dari lima jilid. Jilid pertama dan kedua ditulis 28 November 1885; jilid ketiga, 13 Desember 1885; jilid keempat dan kelima ditulis 15 Januari 1886. Hikayat Sultan Taburat II terdiri dari dua jili. Jilid pertama diselesaikan tanggal 30 Januari 1894 dan jilid kedua mulai ditulis 20 Oktober 1893. Hikayat Sultan Taburat IV ditulis tanggal 20 Mei 1899. Sayang sekali, Hikayat Sultan Taburat III naskahnya dalam keadaan yang sudah rusak, sehingga tidak dapat diketahui kapan naskah itu mulai ditulis.

Bersamaan dengan itu, beberapa pengusaha Cina dan Indo-Eropa yang tinggal di Betawi mulai memanfaatkan usaha percetakan. Naskah-naskah yang tadinya ditulis tangan, sekarang dicetak. Ada yang menggunakan huruf Jawi, ada pula yang menggunakan huruf Latin. Dikenalnya alat percetakan ini, memudahkan orang mencetak buku. Bahkan kemudian berkembang dengan mencetak majalah dan surat kabar.

Soerat Chabar Batawie terbit pertama kali tahun 1858. Dicetak oleh percetakan Lange. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Betawi (Melayu) dengan huruf Latin dan Jawi. Inilah suratkabar pertama Betawi. Di dalamnya, ada juga cerita-cerita atau karya sastra, se-perti pantun, syair atau sketsa, dimuat di sana. Surat-surat kabar lain yang juga menggunakan bahasa Melayu Betawi yang terbit di Betawi, antara lain, suratkabar Bianglala yang terbit tahun 1867 dan bertahan sampai tahun 1872. Dicetak di Betawi oleh percetakan Ogilvie & Co. Selanjutnya, suratkabar ini berganti nama menjadi Bintang Djohar (1873) dan dapat bertahan sampai tahun 1886. Dua tahun kemudian (1888), percetakan Yap Goan Ho, Betawi, menerbitkan suratkabar Sinar Terang yang berbahasa Melayu-Betawi. Suratkabar ini menghentikan penerbitannya tahun 1891. Pada tahun 1900, muncul pula suratkabar Bintang Betawi yang dicetak oleh percetakan Van Dorp & Co. Suratkabar ini bertahan sampai tahun 1906. Seperti suratkabar sebelumnya, di dalam suratkabar Bintang Betawi ada pula karya-karya sastra yang dikarang pujangga Betawi dimuat di sana.

Pada tahun 1932, terbit pula suratkabar Berita Betawi yang kali ini dicetak oleh Perusahaan Betawi. Sayangnya, suratkabar ini hanya bertahan selama setahun. Tahun 1933, suratkabar ini menghentikan penerbitannya. Pada tahun 1938, sebuah majalah yang dikelola oleh Perhimpunan Kaum Betawi terbit pula dengan menggunakan huruf Latin dan Jawi. Bahasa yangdigunakannya adalah bahasa Melayu-Betawi.

Surat-suratkabar dan majalah tadi, tentu saja turut membantu lahirnya para penulis atau sastrawan Betawi.

Meskipun sudah banyak karya-karya sastra Betawi yang diterbitkan dalam bentuk tertulis, tidak berarti tradisi kesusastraan lisan, mati dengan sendirinya. Di surau-surau atau masjid, para murid pengajian, masih sering mendendangkan sastra lisan, seperti pantun dan syair. Tukang cerita atau sahibul hikayat yang membawakan kisah-kisah Hikayat Sultan Taburat atau hikayat lain, masih sering diundang dalam acara-acara tertentu. Salah seorang tukang cerita yang cukup terkenal adalah K.H. Ali Hamidy, seorang ulama Betawi asal Matraman.

Sesudah Merdeka sastra Betawi masih tetap berkibar dengan tokoh-tokohnya yang diakui dalam sejarah sastra Indonesia. Sebut saja misalnya SM. Ardan, Firman Muntaco, Mahbub Djunaidi, M. Balfas, S. Saiful Rahim, Susi Aminah Azis, Zaidin Wahab, Tutty Alawiyah AS, dan lain-lain.

Untuk zaman mutahir dapat kita sebut Zeffry Alkatiri, Ridwan Saidi, Nur Zaen Hae, Ihsan Abdul Salam, Aba Mardjani, Rizal, dan lain-lain.

Akhir Kalam

Masih perlu penelitian lebih intensif dan mendalam tentang keberadaan sastra dan sastrawan Betawi. Kita belum mendapat gambaran yang jelas siapa sebenarnya Yamikul, sastrawan yang hidup pada masa Pangeran Jayakarta. Dibutuhkan tangan terampil dan semangat tinggi untuk benar-benar dapat mengupas sastra Betawi secara utuh menyeluruh.